Showing posts with label Seni Tari. Show all posts
Showing posts with label Seni Tari. Show all posts

Tari Lego-Lego dari Alor NTT

Tari Lego-lego berasal dari Alor Nusa Tenggara Timur (NTT). Saat ini tari alor belum banyak diketahui banyak orang terutama orang-orang yang berada jauh dari NTT. Memang tidak seterkenal seperti tari janger atau tari kecak dari bali yang sudah terkenal sampai ke manca negara. Namun tari lego-lego adalah tari yang benar-benar asli berasal dari adat-isti adat masyarakat Alor NTT. Tidak kalah indahnya dengan tari-tari terkenal lainnya, dalam tari lego-lego adalah menggambarkan kehidupan masyarakat NTT yang dibagi menjadi 3 yaitu masyarakat nelayan, masyarakat petani yang kerjanya di darat, dan masyarakat yang kerjanya di udara yaitu masyarakat yang kerjanya memanjat pohon mengambil daun-daun lontar dari pohonnya.



Di kalangan masyarakat Alor NTT, tari lego-lego adalah tari yang sangat terkenal. Biasanya tari ini ditampilkan pada saat ada acara adat atau acara pertunjukan. Tari lego-lego diikuti oleh laki-laki dan perempuan. Tari lego-lego adalah tari masal karena diikuti oleh banyak orang. Diiringi dengan nyanyian-nyanyian menggunakan bahasa daerah mereka tari lego-lego biasanya ditampilkan sampai larut malam. Saat membawakan tarian peserta menari bersama-sama, kadang mereka berdiri melingkar sambil bergandengan tangan. Sambil terus menyanyikan lagu-lagu daerah tanpa henti. Pakaian yang dipakai juga menggunakan pakaian adat dengan berbagai macam corak yang berwarna warni.

Sejarah Tari Lego-lego

Asal mula tari lego-lego belum diketahui siapa penciptanya. Namun tari lego-lego diketahui tari yang sudah turun-temurun sejak nenek moyang atau leluhur penduduk asli Alor NTT. Dulu tari lego-lego adalah tari yang dilakukan setelah suku Alor NTT selesai mengadakan upacara adat. Setelah selesai kemudian mereka mengadakan pertunjukan tari lego-lego secara bersama-sama baik laki-laki dan perempuan berdiri mengelilingi misbah (benda yang dikeramatkan) atau dalam bahasa jawa disebut punden. Mereka membentuk formasi mengelilingi misbah sambil bergandengan tangan. Hal ini dikerjakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya acara mereka.

Gerakan tari lego-lego

Gerakan tari lego-lego banyak didominasi oleh gerakan tangan dan kaki. Gerakan banyak didominasi oleh kaki melangkah maju-mundur  sambil bergandengan tangan dan saling mengaitkan tangan. Dengan memakai beberapa gelang yang dikenakan di kaki setiap penari, pada saat melakukan langkah maju mundur akan terdengar suara gemerincing. Gerakan yang dilakukan harus kompak, jika tidak kompak maka suara gelang yang penari pakai akan terdengar rancu dan bahkan penari akan kehilangan keseimbangan. Saat tarian berlangsung mereka semua bernyanyi memuji dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan karunianya. Nyanyian yang terus dikumandangkan sampai tari lego-lego selesai.

Makna Tari Lego-lego

Melihat dari gerakannya yang dilakukan bersama-sama orang banyak beridiri mengelilingi misbah sambil berkaitan tangan, tari lego-lego mempunyai makna persatuan. Mereka saling bersatu dalam menjalankan tugas, baik tugas pekerjaan maupun tugas adat. Hal ini dapat dilihat setelah selesai mengerjakan tugasnya mereka saling bersatu berdiri, bergandengan tangan, berkaitan dan berpelukan melingkar mengelilingi misbah dengan gerakan kompak bersama-sama. Mereka menunjukkan bahwa mereka kompak, bersatu saling membantu dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari. 

Apresiasi Tari Tunggal Nusantara

Indonesia memiliki kekayaan seni tari yang beragam. Berbagai bentuk karya tari merupakan salah satu bentuk keragaman kekayaan tersebut. Berdasarkan bentuk koreografinya tari dibedakan menjadi tari tunggal, tari berpesangan, dan tari kelompok. Karya seni tari ada yang berbentuk tari tunggal, tari berpasangan, dari trai kelompok. Setiap bentuk karya tari memiliki keunikan tersendiri.
Contoh karya tari tunggal antara lain Tari Topeng Rumyang dari Cirebon, Tari Merak dari Jawa Barat, dan Tari Kebyar Duduk dari Bali.

Salah satu tokoh tari Bali adalah I Nyoman Sura seorang penari sekaligus pencipta tari. Dia telah banyak menampilkan berbagai bentuk karya tari Penampilan karya tarinya dilakukan di dalam maupun di luar negeri. Tari Topeng yang ditampilkan oleh I Nyoman Sura dalam acara festival Bedog di Sleman, Yogyakarya. Tari Topeng ditarikan I Nyoman Sura di atas panggung secara perseorangan. Panggung atau tempat menari berupa alam terbuka sangat ia kuasai. Meskipun I Nyoman menari sendiri, penampilannya begitu memukau para penonton.

Secara umum karya seni tari dikelompokkan menjadi tari tradisional dan tari kreasi baru. Tari tradisional merupakan tari yang mengalami perjalanan sejarah cukup panjang, tari tradisional selalu bertumpu pada pola-ola tradisi yang ada. Tari tradisional dibagi menjadi tiga kelompok yaitu tari primitif, tari klasik, dan tari rakyat. Sedangkan tari kreasi baru atau sering disebut dengan tari modern merupakan karya tari garapan baru. Tarian ini tidak berpijak pada aturan-aturan yang ada.

Bentuk karya tari tunggal merupakan tari yang ditarikan oleh seorang penari. Namun tidak menutup kemungkinan tari tunggal dibawakan oleh lebih dari seorang penari. Tari tunggal lebih menampilkan ekspresi perseorangan. Bentuk tari tunggal bermacam-macam, ada bentuk tari tunggal yang cocok ditarikan oleh penari pria, ada pula tari tunggal yang cocok dibawakan penari wanita, ada pula tari tunggal yang cocok dibawakan oleh penari pria maupun wanita.

Berdasarkan jenis tarinya ada bermacam-macam tari tunggal, ada tari tunggal yang termasuk tari tunggal ritual, tari tunggal tradisional, dan ada juga tari tunggal yang termasuk tari kreasi baru,

Tari Tunggal Tradisional
Tari tunggal tradisional merupakan tari tradisional yang dibawakan seorang penari untuk keperluan upacara. Seperti Tari Sang Hyang Jaran, Tari Sang Hyang Lelipi, Tari Sang Hyang Dedari dari Bali.

Tari Tunggal Tradisional
Tari tunggal tradisional dibawakan oleh seorang penari tunggal tradisional ciri khas tertentu dan berfungsi sebagai tontonan. Tari tunggal yang termasuk tari tradisional antara lain :
Tari Topeng Rumyang dari Cirebon
Tari Taruna Jaya dari Bali, Tari Srikandi dari Bali
Tari Jejer dari Banyuwangi (Jawa Timur)
Tari Kancet Ledo dari Kalimantan (Dayak Kenyah)
Tari Gandrung dari Batuwangi
Tari Taledhek dari Jawa timur
Tari Gambyong dari Jawa tengah
Tari Cokek dari Jawa tengah
Tari Batek baris dari Sumbawa
Tari Kancet papatai dari Kalimantan (Dayak kenyah)
Tari Kancet lasan dari Kalimantan (Dayak kenyah)
Tari Leleng dari Kalimantan
Tari Hudoq dari Kalimantan
Tari Persembahan dari Kutai Kertanegara
Tari Dewa memanah dari Kutai Kertanegara
Tari Srimpi dari Jawa Tengah
Tari Bondhan dari Jawa Tengah
Tari Golek manis dari Jawa Tengah
Tari Golek Kanya dari Jawa Tengah
Tari Mani poreng
Tari Merak dari Sunda dan Bali
Tari Pendet dari Bali
Tari Tunggal Kreasi Baru
Tari tunggal kreasi baru tari yang dibawakan oleh seorang penari yang membawakan karya penciptanya dan memiliki karakteristik koreografernya. Tari tunggal yang termasuk tari kreasi baru antara lain : Tari Sumringahing Ati dan Tari Wira Pratiwi karya Bagong Kusudiharjo, Tari Kebyar Terompong karya I Mario dari Bali, Tari-tari Putri Karya R. Tjetje Soemantri.
Dalam menarikan sebuah tari tunggak secara perorangan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain :
Penari harus memiliki kemampuan menari yang bagus.
Penari harus menguasai gerak tari.
Penari harus dapat mengolah rasa sesuai dengan tariannya.
Penari harus dapat menyesuaikan diri dengan iringan tarinya.
Penari harus mengasai ruang pentas tari.
Penari memiliki tanggung jawab yang besar.
Unik berarti sesuatu yang memiliki kelebihan disbanding dengan yang lain. Keunikan dalam karya tari dapat ditunjukkan melalui keindahan di dalamnya. Keindahan dalam sebuah karya tari dapat dilihat dari hal-hal berikut :
1. Gerak Karya Tari, Keindahan gerak tari dapat dilihat dari :
Adanya keselarasan dari anggota badan yang satu dengan anggota badan yang lainnya.
Adanya keselaran gerak dengan irama.
Adanya penghayatan, pengungkapan dan ekspresi ragam gerak
2. Penataan tat arias dan tata busana
3. Penggunaan alat untuk memeragakan gerak tari.
4. Penguasaan Ruang pentas
5. Penguasaan bentuk pola lantai

Unsur-Unsur Dalam Tari

Ada 5 unsur dalam tari yaitu: 1. Gerak, 2. Ruang, 3. Waktu, 4. Tenaga, dan 5. Ekspresi. Berikut ini penjelasan dari masing-masing unsur.

1. Gerak

Unsur utama dari tari adalag gerak. Dalam tari, gerak merupakan fungsionalisasi dari anggota tubuh manusia yaitu gerakan bagian kepala, badan, tangan, dan kaki. Gerak tubuh manusia secara umum
dapat di bagi menjadi tiga bagian, yaitu gerak anggota tubuh bagian atas, bagian tengah dan bagian bawah. Tari merupakan relaksasi dan penegangan otot-otot yang secara penghayatan menghasilkan ekspresi gerak untuk berkesenian. Wujud garak tari secara implusif bersifat lembut dan mengalir. Kadang tegas, kadang terputus-putus, tegang, kendur, gabungan lemas-kencang, lambat-cepat, patah-patah mengalir dan sebagainya. merupakan bentuk distorsi dan stilisasi yang menjadi pembeda antara gerakan tari dan gerakan sehari-hari.

Anggota badan bagian tengah adalah sebagai penopang dan pembentuk sikap anggota badan bagian atas dan bawah. Kedudukan anggota badan bagian tengah memiliki posisi statis namun memiliki pengaruh besar terhadan pembentukan sikap dan kedudukan anggota badan yang lainnya. Anggota gerak bagian atas terpusat pada kepala dengan leher sebagai pengendali, Anggota gerak badan terdiri dari badan, tangan,  hingga pinggul,  anggota bagian bawah terdiri dari paha hingga jari-jari kaki.

2. Ruang

Ruang adalah sesuatu yang harus diisi dengan gerakan. Ruang dalam tari berisi aspek yang harus diungkapkan oleh seorang penari yang membentuk perpindahan gerak tubuh, posisi yang cepat, dan ruang gerak penari. Ruang menjadi salah satu bentuk dari imajinasi yang harus diisi dalam mengolah gerak menjadi bagian yang digunakan untuk perpindahan tempat, posisi, dan kedudukan. Saat penari sedang melakukan olah tubuh ruang tercipta dari jarak penari,  gerak olah tubuh penari, serta posisi berdiri masing-masing penari.

3. Waktu

Dinamika tari tercipta melalui cepat dan lambat gerakan yang dilakukan penari. Unsur dinamika ini jika dijabarkan membutuhkan waktu. Penari bergerak menggunakan anggota tubuh dengan cara berpindah tempat, berubah posisi, dan mengubah kedudukan tubuh. Semuanya menggunakan waktu.

Tempo gerakan merupakan panjang pendeknya dan cepat lambatnya gerakan. Tempo gerak dapat membangun imajinasi secara keseluruhan dalam membangun gerak tari atau koreografi tari. Desain waktu berhubungan erat dengan kecepatan gerak, situasi dan kondsisi emosional penari.

4. Tenaga

Tenaga yang disalurkan kedalam gerak yang dilakukan penari merupakan bagian dari kualitas sesuai penghayatan tenaga. penghasilan tenaga dalam gerak tari berhubungan erat dengan keindahan tari, sehingga tari dapat lebih dinamis, berkekuatan, berisi dan antiklimak. Penegangan dan pengendoran gerak secara keseluruhan berhubungan dengan kualitas, intensitas, dan penghayatan gerak lain tari. Penggunaan tenaga dalam gerakan tari menjadikan tari lebih terkontrol, terkendali, dan memenuhi harapan. Penyaluran tenaga dan ekspresi memberikan kehidupan tari semakin nyata.

5. Ekspresi

Ekspresi dalam tari adalah  daya ungkap melalui tubuh ke dalam aktifitas pengalaman seseorang yang selanjutnya dikomunikasikan kepada penonton menjadi bentuk gerakan jiwa. kehendak, emosi, atas penghayatan peran yang dilakukan. Daya penggerak diri penari sangat menentukan penghayatan jiwa, desakan jiwa, dan ekspresi jiwa dalam membentu suatu tari. Ekspresi wajah dibutuhkan dalam pertunjukan untuk memberikan penguatan kepada penonton tentang penghayatan penari.

Sejarah Tari Pakarena

Tari Pakarena adalah tari tradisional dari Sulawesi Selatan. Menurut sejarah ada dua asal usul Tari Pakarena yaitu  tari pakarena dari Gowa, yaitu salah satu Kabupaten / Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Sungguminasa. dan tari pakarena dari Gantarang Sulsel, yaitu sebuah kecamatan di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.


Tari Pakarena dari Sulawesi selatan


Tari Pakarena Gantarang berasal dari perkampungan yang pada jaman dahulu sebagai pusat kerajaan di Pulau Selayar Yaitu Gantarang Lalang Bata. Berdasarkan sejarahnya tari ini muncul pada abad ke 17 pada tahun 1903 ketika Panali raja dilantik menjadi Raja di Gantarang Lalang Bata. Namun tidak ada data yang menyebutkan siapa yang menciptakan Tari Pakarena Gantarang ini namun masyarakat meyakini bahwa Tari Pakarena Gantarang berkaitan dengan kemunculan Tumanurung, yaitu bidadari yang turun dari langit untuk untuk memberikan petunjuk kepada manusia di bumi. Petunjuk yang diberikan tersebut berupa simbol – simbol berupa gerakan yang kemudian di kenal sebagai Tari Pakarena Gantarang. Menurut salah seorang penari pakarena dari makasar, Tari Pakarena berawal dari kisah perpisahan penghuni botting langi (Negeri Kayangan) dengan penghuni lino (bumi) zaman dahulu. Sebelum berpisah, botting langi mengajarkan kepada penghuni lino mengenai tata cara hidup, bercocok tanam hingga cara berburu lewat gerakan-gerakan tangan, badan dan kaki. Gerakan inilah yang kemudian menjadi tarian ritual ketika penduduk di bumi menyampaikan rasa syukur pada penghuni langit.

Tari Pakarena ini ditampilkan oleh empat orang penari perempuan. Diiringi oleh 2 (dua) kepala drum (genderang) dan sepasang instrumen alat semacam suling (puik-puik). Tari Pakarena adalah tari yang sangat artistik dan sarat makna, halus bahkan sangat sulit dibedakan satu dengan yang lainnya. Tarian ini terbagi dalam 12 bagian. Setiap gerakan memiliki makna khusus. Posisi duduk, menjadi pertanda awal dan akhir Tarian Pakarena. Gerakan berputar mengikuti arah jarum jam, menunjukkan siklus kehidupan manusia. Sementara gerakan naik turun, tak ubahnya cermin irama kehidupan. Aturan mainnya, seorang penari Pakarena tidak diperkenankan membuka matanya terlalu lebar. Demikian pula dengan gerakan kaki, tidak boleh diangkat terlalu tinggi. Hal ini berlaku sepanjang tarian berlangsung yang memakan waktu sekitar dua jam. Pakaian penari adalah baju pahang (tenunan tangan), lipa’ sa’be (sarung sutra khas Sulawesi Selatan), dan perhiasan-perhiasan khas Kabupaten Selayar. Tahun 2007, Tari Pakarena Gantarang mewakili Sulawesi Selatan dan Indonesia pada Acara Jembatan Budaya 2007 Indonesia–Malaysia di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC).
Penari Pakarena harus perempuan karena pada dasarnya tarian tradisional ini mencerminkan karakter perempuan Gowa yang sopan, lembut, setia, dan patuh. Para penari melengkapi keindahan gerakan tariannya dalam kostum cerah berwarna merah, hijau, kuning dan putih. Untuk melengkapi tarian ini, penari juga membawa kipas berukuran besar. Selain itu, aksesoris lain yang dikenakan antara lain adalah gelang, kalung, dan juga sanggul.

Pada jaman dulu tari pakarena dipertunjukkan sebagai salah satu media pemujaan kepada para dewa. Keindahan serta keunikan gerak tari pakarena ini kemudian lambat laun menggeser fungsi dari tarian ini sebagai media hiburan.

Tari Reog Ponorogo Dari Jawa Timur

Tari Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur yaitu daerah Ponorogo. Tari reog diperkirakan sudah ada sekitar abad ke-15, tepatnya ketika masa terakhir dari kerajaan Majapahit. Pada awalnya, tari reog  ini merupakan sindiran atas ketidak mampuan dari Bhre Kertabhumi dalam memimpin Majapahit kala itu. Lalu, bagaimana sebenarnya asal mula dari kesenian Reog Ponorogo ini?

Berikut adalah ulasan lengkap mengenai asal mula serta perkembangan dari Reog Ponorogo ini.

Reog Ponorogo Dari Jawa Timur


Dalam sejarah terdapat lima versi mengenai asal mula kesenian Reog Ponorogo.  Yaitu : 1. Versi Kerajaan Bantarangin, 2. Versi Ki Ageng Kutu, 3. Versi Batoro Katong, 4 Versi Cerita Majapahit, dan 5. Versi Kediri. Adapun salah satu cerita yang paling terkenal dari kelima Versi cerita tersebut adalah ketika salah satu abdi yang bernama Ki Ageng Kutu berniat untuk melakukan pemberontakan kepada pimpinan Majapahit yang pada saat itu dijabat oleh Bhre Kertabhumi. Kejadian yang terjadi pada abad ke-15 tersebut dilatarbelakangi oleh murkanya Ki Ageng Kutu kepada istri sang Raja yang berasal dari Tiongkok. Hal tersebut dikarenakan dirinya merasa istri sang raja mempunyai pengaruh yang kuat terhadap raja. Selain itu, dirinya juga merasa bahwa raja hanya diam saja terhadap tindakan korupsi yang dilakukan oleh pejabat  Majapahit kala itu. Pada saat itu, diramalkan bahwa Majapahit akan segera berakhir dalam waktu cepat atau lambat.

Tari Reog Ponorogo


Pementasan Reog Ponorogo

Tari Reog biasanya dipentaskan dalam beberapa acara pesta seperti pernikahan, khitanan dan saat peringatan hari besar Nasional misalnya HUTRI. Seni Reog Ponorogo terdiridari beberapa rangkaian yaitu 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 7-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 7-8 gadis yang menaiki kuda.

Urutan tari Reog ponorogo biasanya adalah sebagai berikut:

A.Tarian pembuka

Pada tarian pembuka  penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-lakiyang berpakaian wanita.Tarian ini dinamakan tari jaran kepangatau jathilan,yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping.Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yangmembawakan adegan lucu yang disebut Bujang Ganong atau disebut juga Ganongan.

 B.Tari Reog inti

Tarian inti ditampilkan ssetelah tarian pembukaan selesai, Tarian  inti isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungandengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untu khajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar. Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kecapekan.

C.Tarian penutup

Setelah tarian inti selesai , Adegan terakhir tari reog ponorogo adalah adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak dan mempertontonkan keperkasaan pembarong dalam mengangkat dadak merak seberat sekitar 50 kilogram dengan kekuatan gigitan gigi sepanjang pertunjukan berlangsung. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topengyang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan bertapa.Instrumen pengiringnya, kempul, ketuk, kenong, genggam, ketipung, angklung danslompret, menyuarakan nada slendro dan pelog yang memunculkan hawa mistis, unik, eksotis serta membangkitkan semangat. Satu group Reog biasanya terdiri dari seorang Warok Tua, sejumlah warok muda, pembarong dan penari Bujang Ganong dan Prabu Kelono Suwandono. Jumlahkelompok reog berkisar antara 20 hingga 30-an orang, peran utama berada  pada tangan warok dan pembarongnya.

Tokoh Dalam Pementasan Reog

1.       Jathilan

Jathilan merupakan tarian yang menggambarkan ketangkasan prajurit berkuda yang sedang berlatih di atas kuda. Jathil adalah prajurit berkuda dan merupakan salah satu tokoh dalam seni Reog.

2.       Warok
"Warok" yang berasal dari kata wewarah adalah orang yang mempunyai tekad suci, memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Warok adalah wong kang sugih wewarah (orang yang kaya akan wewarah). Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik

3.       Barongan

Barongan (Dadak merak) merupakan peralatan tari yang paling dominan dalam kesenian Reog Ponorogo. Bagian-bagiannya antara lain; Kepala Harimau (caplokan), terbuat dari kerangka kayu, bambu, rotan ditutup dengan kulit Harimau Gembong

4.       Klono Sewandono

Klono Sewandono atau Raja Kelono adalah seorang raja sakti mandraguna yang memiliki pusaka andalan berupa Cemeti yang sangat ampuh dengan sebutan Kyai Pecut Samandiman kemana saja pergi sang Raja yang tampan dan masih muda ini selalu membawa pusaka tersebut.

5.       Bujang Ganong

Bujang Ganong (Ganongan) singkatan dari  Patih Pujangga Anom adalah salah satu tokoh yang enerjik, kocak sekaligus mempunyai keahlian dalam seni bela diri sehingga disetiap penampilannya senantiasa di tunggu - tunggu oleh penonton khususnya anak-anak.


Makna di Balik Tari Topeng Reog Ponorogo mengandung nilai seni budaya yang tinggi. Indonesia kaya akan budaya dan kesenian tradisionalnya yang bahkan telah terkenal hingga ke seluruh dunia. Beragam suku dan budaya juga mempengaruhi adat dan kebudayaan di masing-masing pulau sehingga muncul berbagai tarian tradisional. Salah satu tarian yang selalu berhasil menarik perhatian publik adalah tari Reog Ponorogo.

Tari Trunajaya Dari Bali

Sejarah Tari Terunajaya

Menurut sejarah Tari Trunajaya berasal dari bali tepatnya dari Buleleng. Buleleng terletak di Pulau Bali bagian utara. Tari Trunajaya menggambarkan gerak gerik seorang pemuda yang baru menginjak dewasa. Gerakannya menggambarkan prilaku seorang remaja yang enerjik, penuh emosional dan ulahnya senantiasa untuk memikat hati seorang gadis. Tari Trunajaya termasuk tari putra keras yang
biasa ditarikan oleh penari putri. Pencipta tari Trunajaya adalah  Pan Wandres dalam bentuk kebyar Legong dan kemudian disempurnakan oleh I Gede Manik. Tarian ini diciptakan pada tahun 1915. Kreasi tarian Trunajaya ini diciptakan untuk sebuah tari hiburan yang bisa dinikmati saat-saat perayaan tertentu.

Tari Trunajaya termasuk dalam kategori tari Balih-balihan atau sebagai tari hiburan. Sebagai tari hiburan tarian ini dapat dipentaskan dimana saja. Misalnya di halaman pura, di lapangan atau panggung tertutup/terbuka, dan di tempat- tempat lainnya.

Pakaian Kostum Tari Trunajaya

Pakaian memberikan ciri khas daru suatu tari. Kostum di buat semenarik mungkin agar dapat memikat daya tarik penonton. Jenis tarian Trunajaya  menggunakan Kostum adat laki-laki inovatif dalam bentuk udeng - udengan  sehingga wajah penari nampak bagus. Properti yang digunakan dalam tarian ini adalah “kepet”, yang sekarang ini sering disebut dengan “kipas”.

Tata busana pada Tari Trunajaya adalah sebagai berikut:
1. Kamen/kancut berwarna unggu prada dengan motif wajik
     Cara penggunaan kamen pada Tari Trunajaya sama halnya seperti pemakaian kain bebancihan pada umumnya yaitu ada sisa kamen di sebelah kiri yang nantinya akan dipakai sebagai kancut.

2. Baju panjang berwarna unggu prada dengan motif mas - masan
Baju pada Tari Trunajaya ini sebenarnya hampir sama dengan tari Legong Kuntul yaitu memakai warna unggu, namun perbedaannya terdapat pada motif. Pada Trunajaya memakai motif mas – masan, sedangkan pada Legong Kuntul memakai motif bun – bunan.

3.  Sabuk  berwarna kuning prada
Penggunaan sabuk pada Tari Trunajaya, sama dengan penggunaan sabuk pada tari – tarian pada umumnya, yaitu dililitkan pada badan penari. Biasanya penggunaan sabuk ini dimulai dari bawah (pinggang) sampai atas (dada).

4. Memakai Ampok – ampok
Ampok – ampok yang dipakai dalam Tari Trunaja ini sama dengan ampok – ampok yang dipakai dalam tari – tarian lainnya. Ampok – ampok dipasang pada pinggang penari.

5.  Memakai simping kulit
Penggunaan simping pada Tari Trunajaya sama halnya dengan penggunaannya pada Tari Legong, yaitu dipasang untuk menutupi bahu kanan dan kiri.

6. Tutup dada berwarna hitam
Tutup dada dipasang diatas simping, yang berfungsi untuk mengikat simping agar tidak lepas.

7. Memakai badong
Dalam tarian ini menggunakan badong lancip dan penggunaannya sama dengan tari lainnya yaitu dipasang pada leher penari.

8. Memakai gelang kana atas
Pemakaian gelang kana ini dipasang pada bagian atas tangan (lengan)

9. Memakai gelang kana bawah
Pemakaian gelang kana ini dipasang pada bagian bawah tangan (pergelangan tangan)

10. Udeng
Pemakaian udeng pada Tari Trunajaya berbeda dari tari – tarian lainnya. Pemakaiannya dikemas sedemikian rupa oleh penggarap sehingga mempunyai ciri khas tersendiri.

Tata Rias Tari Trunajaya

Tata rias diperlukan untuk memberikan tekanan atau aksentuasi bentuk dan garis-garis muka sesuai dengan karakter tarian. Tari Trunajaya  menggunakan rias wajah putra halus. Pada Tari Trunajaya, sudah menggunakan rias pentas atau panggung dengan menggunakan Celak mata berwarna kuning, merah dan biru serta pemakaian alis yang agak tinggi dari riasan tari putri serta menggunakan taling kidang.

Hiasan kepala yang dipakai dalam Tari Trunajaya ini adalah

  1. Memakai Udeng
  2. Memakai garuda mungkur (dibagian belakang)
  3. Memakai satu bunga sandat
  4. Memakai bunga kuping (bunga merah dan bunga putih)
  5. Menggunakan rumbing

Iringan Musik  Tari Trunajaya

Musik seni tari bukan hanya sekedar iringan, tetapi merupakan patrner tari yang tidak boleh ditinggalkan, sehingga harus betul – betul digarap agar tercapai keharmonisan. Tari Trunajaya biasanya diiringi oleh gamelan Gong Kebyar. Lamanya waktu sangat berpengaruh pada lamanya iringan musik. Tari Trunajaya dapat ditarikan dengan waktu yang pendek dan panjang. Waktu yang di gunakan dalam sajian Tari Trunajaya pendek kurang lebih 11 menit dari awal  sampai  akhir. Waktu yang berkaitan dengan tempo (cepat dan lambat ) dibuat bervariasi, artinya tempo iringan disesuaikan dengan tempo gerak atau sebaliknya.

Urutan  Gerak Tari Trunajaya

PEPESON
Rangkaian Pepeson dalam tari Trunajaya antara lain:

  1. Berjalan kedepan dengan tangan kiri memegang kancut, tangan kanan sirang susu dan memegang kipas
  2. Agem pokok Trunajaya. (tangan kiri mapah biu dengan jari – jari ditekuk kebawah, dan tangan kanan sirang susu)
  3. Sledet capung
  4. Ngoyod, sambil tangan kanan nabdab gelung
  5. Agem kanan dan agem kiri
  6. Nyerigsig, nyegut (tangan kiri sirang susu dan tangan kanan nepuk dada), sogok kanan-kiri, ngeseh, tayung kanan
  7. Nyegut kiri, (tangan kanan sirang susu dan tangan kiri nepuk dada), sogok kiri-kanan,ngeseh, tayung kanan
  8. Agem kanan, ngelayak
  9. Tanjek 2x dengan posisi tangan agem pokok
  10. Agem kanan, sledet
  11. Agem kiri (tangan kiri sirang susu, tangan kanan nepuk dada), sledet
  12. Agem kanan (tangan kanan sirang susu, tangan kiri nepuk dada), sledet
  13. Maju kaki kiri-kanan, putar penuh
  14. Ngeliput, agem kanan, ngeseh, sledet (2x)
  15. Ngenjet, nyeregseg, ngepik (arah pojok kanan)
  16. Gerakan tangan ke kanan-kiri diikuti mata nyeledet dan hentakan kaki, tangan ngeliput
  17. Ngangsel, ngeseh, ngepik, ngocok langse
  18. Ngegol diikiti dengan mengambil kancut serta kipas ngeliput
  19. Tayog
  20. Agem kanan, kaki diangkat bergantian
  21. Milpil ke kanan dan ke kiri
  22. Buang kipas


PENGAWAK
Rangkaian Pengawak dalam tari Trunajaya antara lain:

  1. Agem kiri Trunajaya
  2. Nyerigsig ke kanan, pindah agem kanan
  3. Tayog kanan kiri, ngenjet
  4. Nyeregseg kanan kiri, ngumbang
  5. Bersimpuh
  6. Tangan ke kanan- ke kiri dengan kipas ngeliput, sledet (3x) 

PENGECET
Rangkaian Pengecet dalam tari Trunajaya antara lain:

  1. Berdiri sambil ngeliput, piles kiri-kanan, agem kanan
  2. Berjalan ke depan,tutup kipas,putar sambil membuka kipas
  3. Ambil kancut, kipas ngeliput, ngegol, sledet, mekecos, agem kanan, sledet ( 3x)


PEKAAD
Rangkaian Pekaad dalam tari Trunajaya antara lain:

  1. Ngenjet, nyeregseg kanan – kiri
  2. Ngumbang sambil memegang kancut
  3. Agem kanan, sambil memegang kancut


8 Tarian Tradisional Dari Jawa Timur

Jawa timur mempunyai wilayah yang cukup luas. Luas wilayahnya sekitar 47 Km2. Di jawa timur terdapat banyak kesenian tari-tarian yang merupakan asli dari jawa timur. Tari-tarian itu lahir dari budaya yang ada di jawa timur dan hasil kreasi para seniman yang ada di jawa timur. Setiap jenis tari mempunyai keunikan tersendiri mulai jenis pakaian yang digunakan, tempat untuk pertunjukan tari, Jenis alat musik untuk mengiringi, dan keunikan gerakan tarian itu sendiri.

Macam-macam tari yang ada di jawa timur adalah sebagai berikut:

1. Tari Taledhek

Tari tledek adalah tari pertunjukan yang dibawakan oleh seorang seniman wanita yang berprofesi sebagai penari. Tari tledek adalah jenis tari yang mempunyai umur yang sudah tua mulai pada masa kerajaan jaman kuno dulu, tari tledek sudah ada dan sering digunakan sebagai pertunjukan oleh keluarga kerajaan atau bangsawan pada jaman dulu. Sampai sekarang tari tledek masih sering dipertunjukkan pada acara-acara seperti pesta dan lain sebagainya.erprofesi sebagai penari.

2. Tari gandrung Banyuwangi
Tari gandrung adalah Tarian pergaulan . Gerak dasar tari gandrung ini merupakan perkembangan dari tari sakral yang disebut Seblang.
Ada 3 bagian dalam tari gandrung, yaitu:

  1. Jejer, berisi ucapan selamat datang untuk para tamu.
  2. Gandrung, Secara bergantian tukang gedog atau tukang mengatur giliran menari, mempersilahkan para tamu untuk menari dengan penari gandrung.
  3. Seblang, Ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa

3.  Drama Tari Wayang Topeng

Tari wayang topeng berasal dari daerah malang tepatnya di daerah Jabung, Jatiguri, Banjarsari, Kedungmonggo kabupaten malang. Drama tari wayang topeng pada  umumnya menggelar cerita tentang Panji. Didaerah Madura terdapat wayang topeng yang disebut dengan  Topeng Dalang dengan cerita Mahabarata.
Didaerah Situbondo tepatnya di Kraksaan dan Panarukan  dikenal dengan nama wayang Kerteh, nama ini disesuaikan dengan nama dalang wayang topeng sekitar tahun 1930 yaitu Kartosuwignyo.

4. Tari Tayub

Tari tayub dikenal oleh masyarakat jawa timur, namun secara umum tari ini tidak dapat dipisahkan dari provinsi yang beribukotakan di Surabaya tersebut. Tari tayub termasuk jenis tari pergaulan yang dibawakan oleh para wanita berparas ayu nan lemah gemulai. Kolaborasi antara gerakan, musik, dan lagu jawa menambah keunikan terhadap tari kelompok ini.

5. Tari Jejer

Tari jejer adalah sebutan lain dari tari gandrung banyuwangi, yakni sebuah kesenian pertunjukan yang menampilkan gerakan berirama dari para penarinya.

Musik pengiring dari tarian khas kabupaten banyuwangi ini tergolong sangat unik yakni berupa gong dan kempul yang secara bersamaan ditabuh hingga menimbulkan nada lagu unik. Properti yang dikenakan oleh para penari jejer juga tergolong sangat tradisional.

6. Tari Seblang

Tarian seblang adalah jenis tari yang berasal dari Banyuwangi Jawa Timur sebagai salah satu acara adat bersih desa. Kesenian ini tergolong sangat berbeda dengan kesenian tari yang lain, pasalnya para penarinya diyakini ditunjuk oleh salah seorang dukun di desa setempat.

Di daera Banyuwangi sendiri terdapat 2 jenis tari seblang yang hingga kini kerap dipertunjukkan pada acara bersih desa seusai hari raya idul fitri maupun idul adhan.

7. Tari  Remo

Tari remo berasal dari Jombang. Konon tari yang pertama kali dikenal oleh masyarakat Desa Ceweng ini diciptakan oleh seorang pengamen dari daerah tersebut. Dalam perkembangannya, tari remo sangat dikagumi oleh masyarakat Jawa Timur, bahkan saat ini tari remo juga menjadi salah satu tarian pembuka dalam sebuah pertunjukan kesenian Ludruk  yang sangat terkenal.

Keunikan gerakan tari remo bisa kita lihat dari gerak kaki yang energik sehingga identik dengan suasana ceria dan bahagia. Busana atau kostum yang menjadi properti tari remo yang dikenal terdapat tiga jenis yakni gaya surabayan, jombangan, dan sawunggaling.

8. Tari Jaranan

Tari jaranan atau disebut juga dengan tari jaran kepang adalah tarian kesenian tari tradisional yang dimainkan oleh para penari dengan menaiki kuda tiruan yang tebuat dari anyaman bambu. Tari jaranan menggambarkan seorang perajurit atau pahlawan yang gagah perkasa sedang menunggang kuda. Tarian jaranan juga sering dibumbui dengan pertunjukan atraksi kesurupan. Selain kaya akan nilai seni dan budaya, tarian ini juga sangat kental akan kesan magis dan nilai spiritual. Tari Jaranan ini merupakan kesenian yang sangat terkenal di Jawa Timur, di beberapa daerah di Jawa Timur kesenian jaranan ini masih tetap hidup dan di lestarikan. Salah satunya adalah kabupaten Kediri yang menjadikan tarian ini sebagai tarian khas dan paling sering dipakai untuk pertunjukan pada hari-hari besar nasional.



Tari Kuda Lumping (Jaranan)

Tari kuda lumping alias Jaranan alias tari jaran kepang adalah tari tradisional jawa timur yang menggambarkan sekelompok prajurit yang menunggang kuda. Kuda yang ditunggangi terbuat dari anyaman bambu atau disebut juga kepang yang dibentuk menyerupai kuda. Kepang kuda dihiasi dengan cat dan tali rafia yang dibentuk menjadi bulu-bulu kuda dan kain yang beraneka warna untuk
hiasan. Penari kuda lumping juga dihiasi dengan pakaian yang khusus mirip seorang perajurit dan ditambah dengan hiasan yang berwarna-warni. Penari kuda lumping juga memegang cambuk yang dibuat atraksi dengan membunyikan cambuk keras-keras.

Tari Kuda Lumping (Jaranan)


Untuk menambah daya tarik bagi penonton, tarian kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, atraksi kekebalan, atraksi magis seperti makan beling atau makan daging mentah. Tari kuda lumping biasanya juga ditampilkan dengan tari-tari jawa yang lain seperti bantengan dan reog ponorogo. Namun cara membawakan tari kuda lumping di setiap daerah di jawa sering ditampilkan menurut adat daerah masing-masing.

Sejarah Tari Kuda Lumping (Jaranan)

Asal usul Tari kuda lumping sesuai dengan tradisi dan pengaruh budaya pada masa kerajaan yang berkuasa dahulu. Bagi masyarakat Jawa Timur sebelah barat ( Blitar, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, dan Pacitan ) tari kuda lumping  lebih terpengaruh oleh kisah wadyabala Prabu Kelana Sewandana dari Kedhiri melawan Singo Barong raja dari Kraton Bandarangin, serta kisah para raja wilayah atau adipati pembangkang yang ada di Ponorogo terhadap Prabu Kertabhumi, Raja Majapait. Maka pakaian dan para penarinya lebih modis dan menunjukkan keberadaan kaum ningrat. Penarinya pun pada umumnya adalah wanita dengan dandanan yang cantik.

Tari Kuda lumping/ Jaran Kepang lebih cenderung dari kisah-kisah raja-raja kecil yang saling berperang atau berebut pengaruh untuk meluaskan wilayahnya. Seperti kisah peperangan antara Turyanpadha ( sekarang Turen – Malang ) dengan Tuksari ( sekarang Sumbersari – Malang) dan pemberontakan warga Malang, Surabaya, Lumajang, dan Pasuruan melawan Sultan Agung dari Mataram. Berdasarkan pengamatan dan penelitian penulis ( di wilayah pinggiran Malang, Lumajang, dan Surabaya ) tari ini berasal dari tari rakyat jelata atau kelompok masyarakat bawah. Tarian berawal dari keinginan kaum jelata untuk memiliki kuda ( Jawa: turangga, Tengger: kapal ) yang saat itu merupakan kendaraan yang cepat tapi mahal dan hanya dimiliki oleh para adipati atau penguasa setempat. Sehingga mustahil mereka memilikinya. Keinginan memiliki yang begitu kuat maka dibuatlah kuda kepang lalu ditunggangi dengan kaki mereka sebagai kaki kuda. Dengan tangan kiri memegang leher kuda (kepang) dan tangan memegang cambuk serta kedua kaki menghentak-hentak bagaikan kaki kuda maka terciptalah tarian Kuda lumping. Alat musik yang sederhana berupa slompret, kendang, kempul, bonang, dan gong ( sautan ) serta pakaian yang sederhana pula ( celana pendek hitam dan kaos loreng merah putih ) semakin menunjukkan bahwa tari ini berasal dari rakyat jelata. Ikat kepala kadang memakai udheng wulung ( khas Ponorogo ), udheng merah dan ungu khas Madura, bahkan udheng lorek khas Jawa Tengah. Sedang kaos tetap loreng putih merah dengan memakai rompi hitam, dan celana warna hitam. Penarinya juga pada umumnya kaum pria. Penari putra Jaran Kepang dengan pakaian yang sederhana. Alat musiknya lebih sederhana juga.

Memang harus diakui sumber tertulis asal usul tari ini amat sedikit, atau bahkan boleh dikatakan tidak ada. Hanya cerita – cerita turun temurun dari para leluhur yang ‘kadang’ kita dengar dari kakek-nenek kita yang masih mau berbagi. Kecenderungan anak muda sekarang, akibat pengaruh budaya dan agama, yang menganggap Tari Jaran Kepang mengandung unsur magis dan klenik sehingga tak menarik lagi bagi mereka. Bahkan, sekedar mengetahui kisahnya saja kadang dianggap ‘tak layak’ Gerakan tari Jaran Kepang. Pada umumnya Tari Jaran Kepang gerakannya dilakukan oleh seluruh anggota gerak tubuh. Mulai kaki, tangan, jemari tangan, bahu dan pundak, leher dan kepala, serta pinggang dan perut. Dengan irama yang dinamis dan kuat, tari ini sungguh memerlukan tenaga yang cukup banyak. Pada masyarakat petani di luar Suku Tengger yang ada di Malang, kita sering melihat mereka berjalan dari rumah sambil membawa cangkul atau garu ( alat membajak sawah ) dan menggiring sapi atau kerbau adalah hal lumrah. Dalam mengelola sawahnya sering menggunakan cangkul. Gerakan mencangkul yang banyak menggunakan tangan ini pula yang banyak mempengaruhi gerakan tangan dalam menari.

4 Unsur Nilai Estetika Seni Tari

Tari adalah gerakan berirama yang dilakukan dalam suatu ruang. Suatu gerakan dikatakan tari  jika terdapat  mengandung suatu ungkapan tertentu, mempunyai ekspresi, dilakukan secara berirama, dilakukan dalam suatu ruangan, memiliki nilai estetika, gerakan itu dapat dinikmati oleh penari dan orang yang melihat tarian itu.

Namun untuk menilai estetika suatu tari dapat menggunakan 4 dasar yaitu sebagai berikut:

1.  Wiraga

Wiraga adalah dasar keterampilan gerak tubuh/fisik penari yang dapat menyalurkan  ekspresi batin dalam bentuk gerak tari.  Gerakan anggota tubuh itu antara lain:

  • Jari-jari tangan
  • Pergelangan tangan
  • Siku-siku tangan
  • Bahu
  • Leher
  • Muka dan kepala
  • Lutut
  • Mulut
  • Jari-jari kaki
  • Dada
  • Perut
  • Pinggul
  • Biji mata
  • Alis
  • Pergelangan kaki

 2.  Wirama 

Wirama adalah suatu pola untuk mencapai gerakan yang harmonis di dalam tari. Di dalamnya terdapat pengaturan dinamika seperi aksen dan tempo tarian. ada dua macam Wirama pada tari, yaitu:

Wirama tandak : adalah wirama yang ajeg (tetap) dan murni dengan ketukan dan aksen yang berulng-ulang dan teratur. dalam wirama tandak, gerak tari dan musik lebih mudah disusun. seorang dapat bergerak langsung mengikuti ketukan sekali, ketukan mengganda, ketukan menigakali, atau dapat pula membuat gerakan sinkop (berlawanan dengan gerakan musiknya)

Wirama bebas : adalah wirama yang tidak selalu memiliki ketukan dengan akses yang berulang-ulang dan teratur.

 3.  Wirasa

Wirasa adalah ekspresi raut muka /mimik yang menggambarkan karakter tarian, penghayatan gerak sesuai dengan tuntutan tarian. Wirasa merupakan tingkatan penghayatan dan penjiwaan dalam tarian. seperti : tegas, lembut, gembira dan sedih, yang mengekspresikan melalui gerakan dan mimik wajah sehingga melahirkan keindahan.

4. Wirupa

Adalah penampilan penari dari ujung atas sampai ujung bawah . Wirupa adalah unsur yang memberikan kejelasan karakter gerak tari yang ditunjukan melalui warna, busana dan tata rias.

Untuk melengkapi keempat unsur di atas, sebuah tari hendaknya dibangun dengan kesesuaian dari tata rias, kostum, tata lampu, dan tata pangung. Tarian yang mengekspresikan kisah sedih misalnya, tidak cocok ditampilkan dengan tata rias yang menor serta kostum yang berwarna cerah. Sebaliknya, tarian yang mengekspresikan kegembiraan, sangat cocok ditampilkan dengan kostum yang gemerlap.

Pengertian Seni Tari

Seni Tari adalah  gerak tubuh yang dilakukan secara berirama dan dilakukan pada waktu dan tempat tertentu guna  keperluan pergaulan, mengungkapkan sebuah perasaan, maksud, serta pikiran yang disertai dengan musik pengiring guna untuk mengatur gerakan sang penari dan juga memperkuat maksud yang akan disampaikan.

Untuk memperjelas tentang pengertian seni tari kita dapat melihat beberapa pendapat dari para ahli seni di bawah ini:

  1. Menurut C. Sachs, tari adalah pelafalan jiwa manusia melalui gerak berirama yang memiliki nilai estetika. 
  2. Menurut Cooric Hartong, tari adalah gerak-gerak badan yang diberi nuansa ritmis dan dilakukan dalam suatu ruang. 
  3. Menurut Bagong Sudito, tari adalah suatu seni yang berupa gerak ritmis yang menjadi alat ekspresi manusia. 
  4. Menurut Susan K. Lenger, tari adalah gerak-gerak tubuh yang dibentuk secara ekspresif yang diciptakan manusia untuk dapat dinikmati.
  5. Menurut Drs. I Gede Ardika, tari adalah sesuatu yang dapat menyatukan banyak hal hingga semua orang bisa menyesuaikan diri atau menyelaraskan geraknya menurut caranya masing-masing. 
Dari kelima pendapat para ahli seni di atas kita dapat menyimpulkan bahwa gerakan itu dikatakan suatu tari jika:
  • Gerakan itu mengandung suatu ungkapan tertentu
  • Gerakan itu mempunyai ekspresi
  • Gerakan dilakukan secara berirama
  • Gerakan dilakukan dalam suatu ruangan 
  • Gerakan harus memiliki nilai estetika
  • Gerakan itu dapat dinikmati oleh penari dan orang yang melihat tarian itu.
Gerakan tari sedikit berbeda dengan gerakan sehari-hari, misalnya berjalan, berlari, ataupun senam. Gerak dalam sebuah tarian bukanlah gerak yang realistis, tetapi gerak yang sudah diberi bentuk ekspresif serta sentuhan estetis.


Sebuah tarian sebenarnya adalah perpaduan dari beberapa unsur, yang disebut dengan wiraga (raga), Wirama (irama), dan juga Wirasa (rasa). Ketiga unsur tersebut dilebur menjadi sebuah bentuk tarian yang sangat harmonis. Unsur utama dalam sebuah tari adalah gerak. Gerak dalam tarian selalu melibatkan semua anggota badan si penari. Unsur-unsur tersebut dipadukan menjadi sebuah gerakan yang enak dipandang.

Seni tari adalah seni yang menggunakan gerakan tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan mengungkapkan perasaan, maksud danpikiran. Tarian merupakan perpaduan dari beberapa unsur yaitu raga, irama, dan rasa.

Asal-Usul Tari Remo

Tari Remo atau  disebut juga dengan tari Remong berasal dari Jawa Timur tepatnya dari Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Tari Remo adalah hasil budaya anak muda dari Kabupaten Jombang yang pekerjaannya sebagai penari pengamen keliling. Itu terjadi sekitar pertengahan abad ke-19. Ternyata tari remo semakin dikenal di tengah-tengah masyarakat jawa timur. Seiring perkembangan jaman tari Remo semakin dikenal di tengah masyarakat Jawa Timur. Dan semakin berkembangnya kesenian Ludruk, maka tari remo digunakan sebagai tarian pembuka pertunjukan Ludruk.

Setelah Indonesia merdeka tahun 1945. Tari remo dan lodruk semakin menjadi satu dan tidak dapat dipisahkan keduanya. setiap ada pertunjukan ludruk, selalu dibuka dengan pertunjukan tari Remo. Dengan memasyarakatnya tari Remo, tidak hanya ludruk saja yang dibuka dengan pertunjukan tari Remo, bahkan pertunjukan wayang juga dibuka dengan tari Remo. Kini tari remo juga digunakan untuk menyambut tamu agung misalnya kunjungan pejabat ke daerah-daerah di jawa timur atau tamu-tamu dari luar negeri.

Isi Tari RemoTarian adalah menceritakan tentang kepahlawanan. Gerakan-gerakan tari remo menceritakan perjuangan seorang pangeran dalam medan laga. Dulu tari Remo lebih didominasi oleh penari laki-laki. Mungkin karena pengaruh isi dalam tari remo yang menceritakan sosok kepahlawanan. Akan tetapi dalam perkembangannya tarian ini juga banyak disukai oleh kaum perempuan. Sehingga sekarang banyak tari remo yang dibawakan oleh kaum putri. Dalam pertunjukan tari remo putri, umumnya para penari akan memakai kostum tari yang berbeda dengan kostum tari remo asli yang dibawakan oleh penari pria.

Karakteristik yang paling utama dari tata gerak Tari Remo adalah gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Gerakan ini didukung dengan adanya bandul-bandul (binggel) yang dipasang di pergelangan kaki. Bandul lonceng ini berbunyi saat penari melangkah atau menghentakkan kakinya di panggung. Selain itu, ciri khas yang lain adalah gerakan melempar selendang atau sampur secara cepat dan dinamis, gerakan anggukan dan gelengan kepala, ekspresi wajah, serta kuda-kuda penari membuat tarian ini menjadi semakin atraktif.

Tata busana Tari Remo sendiri bermacam-macam menurut wilayah kebudayaan dan siapa yang menarikannya. Gaya-gaya busana Tari Remo adalah gaya Surabayan, Malangan, Jombangan, Sawunggaling, dan Remo Putri. Dalam gaya busana Surabayan, aksesori yang dikenakan terdiri atas ikat kepala merah (udheng), gelang kaki berbandul (binggel), baju tanpa kancing yang berwarna hitam dengan gaya kerajaan pada abad ke 18, celana sebatas pertengahan betis yang dikait dengan benang emas, kain batik (jarik) gaya Pasisiran yang menjuntai hingga ke lutut, setagen yang diikat di pinggang, serta keris yang diselipkan di belakang. Penari juga memakai dua selendang, yang mana satu dipakai di pinggang dan yang lain disematkan di bahu, dengan masing-masing tangan penari memegang tiap ujung selendang.

Tari Remo Dari Jawa Timur

Tari Remo adalah salah satu tarian untuk penyambutan tamu agung, yang ditampilkan baik oleh satu atau banyak penari. Tari Remo berasal dari Kabupaten Jombang kecamatan Diwek  desa Ceweng, Jawa Timur. Tari remo adalah hasil kreatifitas warga yang berprofesi sebagai pengamen tari di kala itu

Tari remo biasanya digunakan untuk penyambutan tamu agung. Dalam penyajiannya tari remo dibawakan  oleh satu atau banyak penari. Selain untuk menyambut tamu agung, tari remo juga dipertunjukkan untuk pembukaan suatu acara hiburan misalnya ludruk, wayang, dan acara dagelan jawa.

Mengapa harus tari remo yang jadi pertunjukan untuk  menyambut tamu agung atau membuka suatu acara hiburan. Karena memang ini sudah menjadi tradisi bagi masyarakat jawa timur sejak dulu jika acara hiburan berupa ludruk atau wayang selalu dibuka dengan pementasan tari remo terlebih dahulu. 

1. Kapan tari remo dipertunjukkan ?
waktu pementasannya tari remo dapat dipertunjukkan kapan saja baik siang atau malam hari. Tergantung kapan acara penyambutan tamu atau hiburan itu dimulai.

2. Dimana tari remo dipertunjukkan.
Tempat untuk pertunjukan tari remo dapat dilakukan di mana saja. baik itu di atas panggung, di halaman terbuka, atau di dalam gedung. Pada saat ini tarian Remo sudah bukan pertunjukan khusus yang dipertontonkan saat ada pergelaran ludruk saja tapi sekarang tari Remo sudah ditarikan massal pada acara- acara nasional serta pembukaan acara yang bersifat kenegaraan.

5. Siapa yang membawakan tari remo?
Tari remo dapat dibawakan oleh siapa saja baik laki-laki atau perempuan, tua maupun muda, orang jawa timur maupun luar jawa timur. Bahkan tari remo juga sering dibawakan oleh orang-orang dari luar negeri. Namun dalam acara-acara resmi misalnya penyambutan para tamu agung, misalnya pejabat pusat yang berkunjung ke daerah jawa timur atau untuk pembukaan acara pertunjukann., tari remo sebaiknya dibawakan oleh penari yang sudah profesional.

6. Tata Busana
Busana dari penari Remo ada berbagai macam gaya, di antaranya: Gaya Sawunggaling, Surabayan, Malangan, dan Jombangan. Selain itu terdapat pula busana yang khas dipakai bagi Tari Remo gaya perempuan.

7.  Gerak
adalah gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Gerakan ini didukung dengan adanya lonceng-lonceng yang dipasang di pergelangan kaki. Lonceng ini berbunyi saat penari melangkah atau menghentak di panggung. Selain itu, karakteristika yang lain yakni gerakan selendang atau sampur, gerakan anggukan dan gelengan kepala, ekspresi wajah, dan kuda-kuda penari membuat tarian ini semakin atraktif.

Penyajian Tari Cendrawasih

Tari cendrawasih adalah tari yang mengisahkan sepasang burung cendrawasih yang sedang memadu kasih. Dalam penyajiannya tari cendrawasih disajikan secara berpasangan dua orang penari, empat orang penari, enam orang penari, dan seterusnya kelipatan dua. Walaupun tarian ini berasal dari Bali, namun cara membawakan gerakan tari cendrawasih kini telah dikembangkan oleh penata gerakan dalam bentuk-bentuk namun tetap sesuai dengan bentuk tarian ini. Busana yang dikenakan dalam tarian ini dibuat sedemikian rupa dengan tujuan untuk memperjelas maksud dan isi yang ada dalam tarian ini. Namun tetap mengutamakan segi estetikanya.

Beberapa aspek penunjang dalam menyajikan tari cendrawasih antara lain adalah penari, musik, rias busana, dan gerakan atau koreografi. Urutan dalam penyajian tari cendrawasih antara lain:

Pepeson (Bagian pertama)
  1. Penari pertama muncul ke panggung dan diawalai dengan Nyerigsig ke depan.
  2. Dilanjutkan dengan gerakan berputar ke kakan lalu Agem kanan
  3. Bergeser ke kiri lalu  Agem kiri.
  4. Kembali lagi ke gerakan agem kanan namun pada gerakan ini ada variasi di iringi dengan bergeser ke kanan.
  5. Agem kiri variasi dengan di iringi bergeser ke kiri.
  6. Gerakan nyelendo di iringin melakah 2 kali ke belakang.
  7. Nyeledet kanan lalu nyeledet ke kiri
  8. Nyosol ke arah pojok kanan depan 2 kali lalu agem kiri.
  9. Gerakan selanjutnya sama, namun pada gerakan ini menuju arah pojok kiri depan lalu agem kanan dan gerakan selanjutnya diulang 3 kali dari nyelendo sampai nyolsol.
Pengawak (Bagian utama)
  1. Penari ke dua memasuki panggung dan langsung menuju gerakan meiberan sambil berputar berlawanan arah.
  2. Setelah gerakan meiberan dilanjutkan dengan gerakan agem kanan cendrawasih.
  3. Gerakan  ngengsog atau ngombak angke dengan di iringi dengan gerakan mekecog ke kanan.
  4. Berputar kekanan dan mekecog lalu menuju gerakan nengok lalu angem kiri cendrawasih.
  5. Gerakan nyolsol dan meancogan langsung nyigsik. Setelah gerakan ini selanjutnya gerakan diulang 2x dari gerakan setelah ngengsog sampai gerakan nyigsig.
Pengipuk/penyuwud/pengecet (Bagian akhir)
  1. Gerakan  meibingan
  2. Meiberan
  3. Agem kiri cendrawasih
  4. Berputar ke kiri lalu nengok
  5. Agem kanan cendrawasih
  6. Ngegol sambil mengepakan sayap

Tari Cenderawasih Dari Bali

Nama tari cendrawasih mengambil dari nama burung cendrawasih yang berasal dari papua. Burung cendrawasih adalah burung yang mempunyai bulu-bulu yang sangat indah, suaranya merdu, dan mempunyai tingkah laku yang khas terutama saat musim kawin. Tari Cendrawasih adalah tari yang berasal dari bali. Tarian ini dibawakan oleh dua orang penari yang mengilustrasikan dua insan yang saling jatuh cinta. Tari cendrawasih merupakan tari ritual perkawainan. Dalam tarian itu salah satu penari berperan sebagai burung cendrawasih jantan dan yang satunya lagi berperan sebagai burung cendrawasih betina. Mereka berdua saling jatuh cinta yang digambarkan dalam gerakan-gerakannya yang meliuk-liuk seperti burung cendrawasih pada musim kawin. Para penari berpakaian meniru bulu-bulu burung cendrawasih yang indah berwarna-warni dan memakai hiasan di kepala.

Tari Cenderawasih Dari Bali

Tari Cendrawasih adalah hasil karya oleh I Gde Manik sekitar tahun 1920. Tari cendrawasih pertama kali ditampilkan di subdistrik Sawan di kabupaten Buleleng pada 1920an. Ketika pertama kali ditampilkan, tari cendrawasih telah banyak disukai oleh masyarakat bali dan banyak membuat orang-orang kagum dengan keindahannya. Tarian yang meliuk-liuk seperti menggambarkan dua burung cendrawasih yang sedang bercinta itu sukses pada tampilan perdananya. Dalam waktu yang tidak lama tari cendrawasih sudah dikenal oleh masyarakat bali dan menjadi tarian yang di tampilkan di setiap acara perkawinan di Bali.

Saat ini tari cendrawasih sudah mengalami penyempurnaan gerakan berkat hasil olahan para koreografer seperti  N. L. N. Swasthi Wijaya Bandem, yang diaransemenkan pada penampilan pertamanya pada 1988.Tari Cendrawasih terinspirasi oleh burung cendrawasih, yang dikenal dalam bahasa Bali sebagai manuk dewata. Jenis burung tersebut dikenal suka menari dan menyanyi ketika berupaya untuk melakukan perkawinan. Tari Cendrawasih adalah salah satu dari beberapa tari Bali yang terinspirasi oleh burung; tarian lainnya meliputi tari Manuk Rawa dan tari Belibis.

Agar kelihatan lebih sempurna Koreografer dari penampilan individual diijinkan untuk menginterpretasikan karya mereka sendiri.Kini tari cendrawasih  sering ditampilkan di luar negeri ketika mempromosikan budaya Indonesia, seperti di Peru pada 2002, di Galeri Seni Freer di Washington, D.C., pada 2008, Jepang pada 2008, dan Belanda pada 2008.

Pesan tari cendrawasih

Masyarakat Bali mengenal tari sebagai suatu bentuk ekspresi simbolik. Pesan simbolik itu pulalah yang melatarbelakangi lahirnya tari cendrawasih oleh Swasthi Wijaya Bandem. Gerakan-gerakan alami burung yang hidup di Indonesia bagian timur itu telah menginspirasi Bandem untuk mengekspresikan keabadian cinta. Burung cenderawasih memang dianggap sebagai burung surgawi yang menjadi simbol perjalanan cinta kasih yang abadi.

Tari cendrawasih merepresentasikan pesannya dalam koreografi yang elegan serta tampilan kostum yang khas. Tari ini dibawakan oleh dua orang gadis yang melenggok dengan gemulai. Salah satu kekhasan yang ada dalam kostum tari cenderawasih adalah pada hiasan kepala yang digunakan para penari. Hiasan kepala para penari berupa makhota berwarna keemasan dengan bagian atas yang terbuka dan sisi depan yang melengkung hingga ke belakang.

Melalui gerakan dan diiringi musik yang khas, tari ini berhasil membawa pesan cinta kasih pada khalayak luas. Mengadaptasi unsur-unsur koreografi dari beberapa tari klasik Bali, tari ini juga menjadi sarana representasi nilai kebudayaan lokal Bali kepada penikmat seni dan masyarakat awam. Hal inilah yang kemudian membuat tari ini menyebar dari sanggar ke sanggar. Saat ini, tari cendrawasih menjadi salah satu tari populer dari Bali. Tidak saja di panggung lokal, tari ini pun berhasil merambah pentas nasional dan bahkan ke tingkat internasional.

Tari Pendet Dari Bali

Tari Pendet adalah tari yang berasal dari Bali. Tari Pendet diciptakan oleh I Wayan Rindi dan Ni Ketut Reneng pada tahun 1950. Tari Pendet adalah tari yang dimaksudkan untuk menyambut turunnya Dewata ke alam dunia. Tari Pendet juga merupakan tari pemujaan kepada Dewata. Tarian ini banyak diperagakan di Pura-Pura dan tempat ibadah umat Hindu di Bali. Tari Pendet adalah tari yang menggambarkan sebuah persembahan dalam bentuk tarian suci.

Secara umum tari Bali digolongkan menjadi dua, yaitu 1. Tari untuk upacara keagamaan, dan 2. Tari hiburan atau balih-balihan. Tari Pendet merupakan tari upacara, namun juga dapat disajikan untuk tari pertunjukan yang mengandung dan dijiwai oleh nilai-nilai religius agama Hindu. Sebagai tari untuk upacara, tari pendet termasuk sangat disakralkan dan disucikan. Dalam tari pendet juga dapat disertakan benda-benda sakral. Dalam upacara keagamaan di Bali, tari pendet dibawakan pada waktu-waktu tertentu dan berkaitan dengan pelaksanaan upacara ritual.

Tari Pendet Dari Bali

Selain tari Pendet, tari-tarian yang digunakan untuk upacara keagamaan antara lain Tari Rejang, Sanghyang, Baris Gede, Barong dan Pendet. Seni Tari Upacara dalam kurun waktu yang cukup panjang, telah mengalami berbagai perubahan yang menyangkut isi, bentuk, dan tata penyajian kesenian itu sendiri, terjadi karena para seniman secara sadar, kreatif, dan terus menerus memasukkan ide – ide baru kedalam kesenian mereka. Tari pendet yang dulunya hanya dipentaskan dalam suatu upacara ritual suci, kini telah dikemas sedemikian rupa oleh penggarapnya sehingga Tari Pendet juga digunakan untuk tari “ Ucapan Selamat Datang”, meski tetap mengandung anasir yang sakral dan religius.

Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis.

Selain keindahan alamnya, di Bali yang merupakan daerah wisata budaya banyak mempunyai kesenian tari-tarian yang banyak macam ragam dan fungsinya. Kegiatan kesenian tari dilaksanakan hampir di setiap banjar yang bertempat di balai banjar. Ada yang dilaksanakan seminggu sekali bahkan seminggu dua kali. Latihan tari seperti ini banyak diikuti oleh para remaja, terutama remaja putri. Jadi hampir semua pemuda dan pemudi di bali dapat menari.